Rabu, 24 Oktober 2007

Menguak Palu dalam Semiotik.

Menguak Identitas Kota Membaca Palu dalam Semiotik
Persoalan besar manusia abad moderen adalah amnesia atas tanda semesta
( Marthin Hedeger)

Kota adalah Imajinasi! Bentuk dan corak sebuah kota merupakan hasil dari mimpi-mimpi besar peradaban yang lahir dari denyut kultural masyarakat. Sebuah kota senantiasa menyimpan sejarah, kenangan, nostaligia, identitas sekaligus utopia. Pergerakan dan pertumbuhan sebuah kota bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja namun merupakan hasil keputusan masyarakat secara historis terhadap kota itu.Setiap kota senantiasa memiliki makna budaya sekaligus tabir sosial. Kelahiran sebuah kota bukanlah sesuatu yang beku dan statis melainkan terbentuk oleh hubungan-hubungan sosial yang senantiasa berubah. Ungkapan menarik pernah di ungkapkan oleh Micel Foucauld “seluruh sejarah peradaban masih menunggu untuk di tulis”.
Identitas sebuah kota merupakan produk budaya yang lahir dari penerjemahan nilai- nilai lokal masyarakat. Misalnya saja Jakarta sebagai Ibu Kota Negara yang menjadi ikon dari metropolitan dan perlambang dari kosmopolitanisme masyarakat, Jogjakarta sebagai kota pelajar dan budaya telah membentuk penanda alamiah kota dengan identitas istimewa kejayaan keraton kesultanan masa lalu, Makassar sebagai Kota dengan konsep masyarakat maritim yang terkenal dengan Branding Makassar Great Expectation yang ingin mencitrakan sebagai daerah yang dilandasi peradaban, etika, dan norma yang tumbuh dan berkembang secara terus menerus.Membicarakan sebuah kota berarti membicarakan ruang sosial yang penuh dinamisasi dan ragam interpretasi oleh para interpretant ( penerjemah).
Jika kota dapat kita pahami sebagai ruang sosial yang senantiasa dinamis maka proses perubahan dalam sebuah kota dapat pula diasumsikan sebagai pergerakan relasi-relasi masyarakat. Pandangan inilah yang dalam Simiotika disebut tanda dan penanda. Setiap Tanda pastilah menyusun Penanda sebagai bentuk relasi dari tanda. Membicarakan Kota Palu pastilah tak dapat dilepaskan dari pegunungan yang menjulang, lembah yang menawan, panorama teluk dan etnis kaili sebagai penanda entitas suku yang bermukim di kota ini.
Dalam semiotika, tafsir kota diubah menjadi sebuah narasi teks yang unik yang memiliki dua relasi yakni Denotatif maupun Konotatif. Pemaknaan Denotatif oleh Roland Barthes adalah sebuah penampakan material sedangkan konotatif merupakan identifikasi budaya dan konsep paradigmatik masyarakatnya.
Palu dalam Sejarah sebuah Upaya Melawan Lupa
Membincangkan kota palu tak dapat dilepas pisahkan dari kondisi sosial dan latar belakang historis kota ini. Kota yang kini dimukimi 304.203 jiwa ini pada awalnya terbagi atas tiga landscap Afdeling ( wilayah kekuasaan) belanda yakni Landschap Distrik Palu Timur, Distrik Palu Tengah dan Distrik Palu Barat, Landschap Kulawi serta Landschap Sigi Dolo.
Lahirnya Undang-Undang Nomor 44 tahun 1950 menetapkan Wilayah Daerah Sulawesi Tengah dengan Ibukota Poso sedang Palu berposisi sebagai tempat kedudukan Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) setingkat Wedana. Tahunpun berganti ketika priode tahun 1957 status Kota Palu berubah menjadi Ibukota Keresidenan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah ketika UU Nomor 13 tahun 1964 dikuarkan.
Tahun 1978 melalui PP nomor 18 Kota Palu ditetapkan menjadi Kota Administratif dan selanjutnya melalui UU Nomor 4 tahun 1994 berubah status menjadi Kotamadya Dati II Palu dengan Wilayah Kota Administratif Palu dan sebagian Wilayah Kecamatan Tavaili. Perubahan yang terjadi telah menempa kota ini menjadi kota mandiri dengan beberapa priodesasi sejarah. Secara Semiotik Priodesasi dan perubahan status telah mewarnai pertumbuhan dan gerak dinamisasi masyarakat. Perubahan status sebuah ruang sosial dalam dimensi masyarakat yang berbeda pastilah menyisakan dua ranah simbolisasi. Pertama sebagai Ibu Kota pemerintahan Sulawesi Tengah, palu menjadi simbolisasi aikonik representase perwajahan Sulawesi Tengah. Kedua sebagai sentrum pusat pemerintahan maka palu memiliki relasi sebagai ruang yang sarat akan dimensi geopolitik.
Menguak Tabir Identitas Palu dalam Orkestra Rusdi Mastura
Membicarakan Identitas sebuah kawasan, negara, maupun kota tidak dapat dilepaspisahkan dengan peran yang ingin diambil wilayah tersebut. Untuk kawasan Asia Pasifik pada akhir abad 20 sampai milenium ketiga ini memunculkan sebuah fenomena istimewa yang dalam Semiotika Kota disebutkan Signifiying Code. Gejala pertama adalah munculnya upaya pengabungan subtitusi ekonomi antara kota-kota kecil dengan kota pusat pemerintahan di sekitarnya. Wilayah kekotaan besar yang dikenal dengan istilah extended metropolitan region ( EMR) yang menjadi inisiasi terbentuknya mega city. Contoh yang bisa dikemukakan adalah klang Valey Corridor yang mengabungkan Kuala Lumpur, Shah Alam dan Klang. Jabotabek yang menunjukan bergabungnya Jakarta, Bogor, Tangerang dan bekasi. Gambaran lainya dapat pula kita temukan Manila-Quezon di filipina. Osaka-kobe di jepang atau Beijing – Tianjin- Hongkong –Gungzho di Cina.Gejala kedua adalah terjadinya Internasionalisasi kota-kota kecil seiring dengan makin tingginya intensitas hubungan global kota-kota besar. Gejala ketiga adalah meningkatnya peran kota pantai sebagai katalisator modernisasi dan pembangunan. Sedangkan gejala ke empat adalah munculnya upaya pengabungan kota-kota antar negara dalam bentuk segitiga pertumbuhan ( growth triangle). Perubahan konsep kota akibat Globalisasi merupakan sesuatu yang teramat sulit untuk di tolak, pertumbuhan sektor produksi baru telah membuat kota kecil membangun relasi ekonomi secara langsung pada para pemilik alat produksi yang menyebabkan terbentuknya internasionalisasi produksi.
Membaca kota palu dalam hari jadinya ke 29 tahun 2007 ini membawa kita pada sebuah penanda tentang sebuah peran yang coba dimainkan oleh seorang walikota yang senantiasa menyebut dirinya sebagai direjen? Peran yang melalui pemaknaan denotatif dapat dilihat dari rumusan Visnya tentang arah perkembangan ” Kota Palu sebagai Pusat Industri dan Perdangan Kakao Sulawesi Tengah dan Sentra Industri Rotan Nasional 2010”. Bergerak lewat visi pemerintah kota palu ini kita bisa menarik sebuah pemaknaan akan Identitas kota palu secara konotatif. Identitas sebuah kota yang akan menjadi simpul distribusi dan perdangangan komoditi kakao dari daerah hinderland yang mendorong pertumbuhan bagi beberapa kota yang menjadi penyanga komoditi. Efek besar dari Identitas ini adalah terciptanya lapangan kerja baru, tumbuh dan berkembangnya masyarakat di sekitar area idustri serta tumbuhnya Industri turunan yang akan mendorong peningkatan pendapatan masyarakat yang bukan hanya terjadi secara sektoral namun memberikan efek dari hulu hingga hilir. Orkestra ini sedang dimainkan melalui sebuah lantunan mimpi dan kerja yang tertatih. Sebuah orkestra adalah perpaduan antara berbagai alat musik yang kemudian dipandu oleh sang direjen yang menjadi penata nada. Lantunan nada arahan sang orkestra melalui identitas yang coba digagas lewat sejumlah kode akan lahirnya Kawasan Industri, Sekolah kerja Rotan ataupun penandatanganan Mou merupakan sebuah anak tangga menuju pintu perdaban NorthenGate Indonesia.

Jumat, 19 Oktober 2007

Jendela-jendela skripsi Komunikasi

A.Beberapa tawaran studi komunikasi
a. Film
- Nagbonar dan Nasionalisme yang kesepian ( sebuah Studi Semiotika )
- Analisis Jender Film berbagi Suami ( analisis Wacana Kritis)
- Pertarungan Kode Budaya dalam Film ada apa dengan Cinta ( Analisis Semiotika)
- Analisis Freming keberpihakan politik Nasional jawa post grup ( Analisis freming)

b. Analisis PR
- Sterategi PR Pro XL dalam merebut Pasar
- Sterategi PR Indosat
- Efektifitas peran PR Pemda Daerah

Jendela-jendela skripsi Komunikasi

Berikut beberapa Tawaran Judul Skripsi Komunikasi:
A. Studi Film :
1. Nagabonar dan Nasionanalisme yang kesepian

Senin, 24 September 2007

Beberapa Jendela Pembuka.

Beberapa adik-adik kosmik mulai disibukan dengan persoalan tugas yang dibebankan untuk menyusun persiapan skripsi ada beberapa hal yang mesti dimulai:
1. Pilihlah kerangka dasar penelitianmu ( objek yang akan diangkat baik film,media massa ataupun strategi pemasaran)
2. Perjelas metodologi yang akan diangkat ( semiotika,analisis wacana, freming atau variabel lain. banyak kok dimetodologi penelitian)
3. Mulailah Menyusun rumusan masalahnya ( Mengapa topik itu menarik kamu angkat)
4. Setelah itu susun dia dalam alur pikir atau dalam bahasa penelitian kerangka konseptual.
5. Jangan memulai dengan

Selasa, 04 September 2007

Menyelami teka-teki

semuanya seperti teka-teki dengan hitungan judi semesta, seuntai harap selalu muncul dari menatapnya dengan kelembutan yang tak pernah berubah, semoga kedepan dia masih sama dengan ketulusan itu! Buat perempuan yang dengan sabar menantiku dengan rindu yang sama, walau ia pernah meningalkanku dan berjalan dengan sosok yang tak perlu ku kunal.

Prempuan yang datang kemudian

Ia kembali hadir menemaniku masih dengan tatapan yang sama, masih seperti dulu. Berbagai ruang dan episode telah kami jalani dalam jarak yang tak singkat. Semuanya bagaikan pemainan puzzel yang selalu penuh teka-teki. Kini kembali dalam sebuah jarak yang sama sembari bercerita tentang sejarah yang lalu. Episode selanjutnya? pemegang dadu atas semesta yang mengaturnya. Entah tapi bukankah entah bisa menjadi Iya bila ruang itu di tata dalam gerak bersama. sekali lagi sabar dan sabar melalui jutaan sceen yang entah di Tack kapan. I not lonley!

Kamis, 21 Juni 2007

Tafsir Semiotika atas FedEx dan Cast Away

e. Fedex dan Hiperrealitas Advertising.
Bukan waktunya buang uang untuk beriklan! Don’t trust advertising people! Advertising Agencies must re-think of their business! Kalimat itulah yang menjadi pembuka pandangan para marketer dunia. Pada awal tahun 2000, sejumlah buku bermunculan seperti ‘the end of advertising as we know it’, krangan Sergio Zyman, mantan CEO Coca Cola World Wide. Ada pula karya yang paling dibenci oleh banyak orang iklan berjudul, “The Fall of Advertising and the Rise of PR”, oleh Al Ries dan Laura Ries.
Pandangan para kritikus iklan dan advertising dunia memang cukup beralasan bila dikaji dengan fenomena realiatas global. Sejumlah pendapat miris tentang iklan yang dipasarkan melalui televisi telah mendapatkan jawaban dengan lahirnya TiVo, sebuah alat yang mampu membuat penonton menikmati program favoritnya tanpa diganggu iklan. Iklan yang semula dianggap sesuatu yang entertaining dan informatif, kini menjadi salah satu ‘musuh’ yang harus dihindari karena dianggap sebagai interuption (gangguan) kenikmatan bagi para penonton yang sedang menikmati sebuah film.
Hal ini tentu saja membuat biro iklan dan para klien mesti memikirkan kembali bagaimana pemasaran sebuah produk baru yang memerlukan promosi, ditengah tingkat rejection ( reaksi ) konsumen terhadap iklan begitu tinggi. Kelahiran Cast Away sebagai sebuah Film yang memunculkan aikon Fedex dalam setiap pemunculanya telah berhasil menjadi sebuah penanda baru dalam logika Advertesing dunia.
Pandangan Jean Baudrillard tentang Hiperrealitas seolah menjadi konsep penting untuk menjelaskan kehadiran Fed-Ex dalam Cast Away. Menurut Baudrillard, dunia saat ini memasuksi sebuah fenomena sosial, dimana manusia menganggap segala sesuatu yang dialaminya adalah sebuah kebenaran absolut. Padahal, hal itu sebenarnya adalah kebenaran semu (bukan objek) yang dibuat melalui simulasi simbol-simbol, kode-kode yang dicitrakan sedemikian rupa dari sebuah objek yang benar, kemudian dipadukan dengan ruang imajinatif sehingga membentuk stimuli kebenaran.
Cast Away menjadi penanda penting dari kemunculan Hiperrealitas dari logika advertising. Dengan pendekatan semiotika Roland Barthes melalui metode signifikansi dua tahapnya, Cast Away dipetakan menjadi dua bagian penting, yakni denotasi dan konotasi. Pada level denotasi, sebuah tanda ditangkap secara material, sedangkan pada levelan konotatif, sebuah tanda mengalami penelaahan secara sintagmatik maupun paradigmatik.
Cast Away secara denotative adalah sebuah cerita tentang seorang agen Fed-Ex bernama Chuck Noland, pegawai Fed-Ex dengan dedikasi tinggi terhadap pekerjaanya. Baginya, pekerjaan adalah segalanya, tak peduli apakah saat itu malam natal atau pergantian tahun. Manakala penyeranta berbunyi, pesannya tak bisa ditawar. Semboyan "we live to deliver", milik Federal Express, tak tergantikan dengan kata-kata "we live to work".
Bagi Chuck, FedEx adalah segalanya dan dengan alasan yang sama pula Chuck rela meninggalkan kekasihnya yang bernama Kelly pada malam natal yang mengantarkannya pada sebuah petualangan sunyi, terdampar di pulau tak berpenghuni, memaksa dirinya larut dalam perjuangan mempertahankan hidup.
Penjelasan secara denotative tentang sosok Chuck dan Fed-Ex tanpa sadar mengiring tangkapan penonton pada sebuah alur tentang Fed-Ex sebagai sebuah perusahaan jasa pengiriman yang tak bisa dilepaskan dengan sosok Chuck sebagai representasi dari para pekerja Fed-Ex.
Sosok Chuck merepresentasikan kerja keras, ketepatan waktu dan dedikasi yang tinggi pada pekerjaan. Bila Cast away dan Fed-Ex ditelaah secara paradigmatik maupun sintagmatik, akan ditemukan dua pola besar yang menjadi sistim penandaan dari Cast Away. Karakter Chuck merupakan representasi dari kode budaya masyarakat Amerika, dimana kerja keras dan dedikasi menjadi penanda sekaligus corak utama dari ruang kebudayaan. Sementara pada level paradigmatic, sebuah narasi besar diimajikan dalam bentuk hiperrealitas, bahwa Chuck dan jasa pengiriman Fed-Ex adalah sebuah alam nyata.
Proses Hiperrealitas dalam bentuk simulasi penandaan yang dilakukan dalam Film Cast Away, bila dianalisis sebenarnya ingin membentuk sebuah ruang simulacrum yang mengantarkan penonton pada stimuli advertesing dengan menciptakan Brand Equity dalam benak penonton.
Fed-Ex sebagai sebuah realitas dan Chuck dalam Cast Away merupakan imaji. Sebuah perpaduan yang sempurna dalam melahirkan sebuah metode pemasaran baru melalui metode Cinema Goers, dimana film merepresentasikan sebuah produk, ditengah rejection negative terhadap cara periklanan lewat televisi.
Perlawanan Fed-Ex dengan metode periklanan lewat film, nampaknya sudah mulai ditiru di Indonesia. Salah satunya dengan kemunculan Film D Bijis, yang mencoba merepresentasikan sebuah produk iklan rokok. Namun, Fed-Ex lewat Cast Away nampaknya belum dapat tertandingi dengan berhasilnya Tom Hanks menggeser bintang-bintang Hollywood berbobot seperti Mel Gibson, Nicolas Cage, Jim Carrey dan Sandra Bullock hinga mengantarkan Fed-Ex pada tangga Box Office.
Cast Away yang dibintangi Hanks dan Helen Hunt pada tahun 2005 mencapai penjualan karcis bioskop sebanyak US$ 40.5 juta di Negara Amerika Serikat dan Kanada. Pendapatan film ini melebihi film silat Crouching Tiger, Hidden Dragon arahan Ang Lee dan komedi What Women Want dengan bintang Mel Gibson.
Kesuksesan Cast Away meraup untung yang begitu besar dengan jumlah penonton yang berlimpah, tanpa sadar juga menjadi kesuksesan bagi Fed-Ex. Karena, melalui Cast Away benak penonton telah dilekatkan sebuah brand bahwa Cast Away dan Fed-Ex merupakan sebuah realitas yang satu.